Senin, 19 Januari 2026

10 Distro Linux Legendaris yang Masih Bertahan: Dari Era Awal Hingga Kini

10 Distro Linux Legendaris yang Masih Bertahan: Dari Era Awal Hingga Kini
10 Distro Linux Legendaris yang Masih Bertahan: Dari Era Awal Hingga Kini

Halo, teman-teman penggila teknologi dan pecinta open source! Pernah nggak sih kamu penasaran, dari sekian banyak distribusi Linux (distro) yang muncul bak jamur di musim hujan, mana saja sih yang benar-benar "legends"? Distro-distro yang bukan cuma sekadar muncul, tapi berhasil melewati ujian waktu, bertahan dari gelombang perubahan, dan masih eksis sampai detik ini? Nah, artikel ini bakal mengajak kamu menyusuri lorong waktu, menemukan 10 distro GNU/Linux yang pertama kali muncul dan masih setia menemani kita.

Ini bukan sekadar daftar. Ini adalah cerita tentang komunitas, filosofi, ketekunan, dan inovasi. Beberapa dari mereka adalah kakek-kakek yang mendirikan fondasi, yang lain adalah orang tua yang melahirkan banyak generasi baru. Kita akan bahas dengan santai, mendalam, dan pastinya bebas plagiarisme karena ini murni hasil rangkuman dan pemahaman. Siap? Ayo kita mulai perjalanan panjang ini!

Prolog: Dunia Linux di Awal 1990-an

Bayangkan dunia di awal 1990-an. Internet masih dial-up dengan suara "kreeeng... titititit...". Linus Torvalds, seorang mahasiswa Finlandia, baru saja merilis kernel Linux versi 0.01 pada tahun 1991. Saat itu, Linux hanyalah kernel—jantung sistem operasi. Untuk menjadikannya sistem yang utuh, dibutuhkan komponen lain: tool dari proyek GNU (seperti GCC, Bash, coreutils) dan software lainnya. Di sinilah peran distribusi Linux dimulai: merakit semua komponen itu menjadi satu paket yang bisa diinstal dan digunakan.

Lahirnya distro-distro awal adalah sebuah revolusi. Mereka membawa kekuatan Unix ke komputer pribadi dengan gratis! Persaingan sehat, perbedaan filosofi, dan semangat berbagi membentuk lanskap yang kita kenal sekarang. Sekarang, mari kita kenali sepuluh pahlawan yang berhasil bertahan.

1. Slackware (1993): Sang "Bapak" yang Teguh Pendirian

Tahun Rilis: Juli 1993
Pendiri: Patrick Volkerding
Filosofi: Kestabilan, kesederhanaan, dan kesetiaan pada prinsip Unix.
Status Sekarang: Masih aktif dikembangkan, rilis terbaru Slackware 15.0 (2022).

Kalau ada distro yang pantas dijuluki "fosil hidup" atau "bapak segala distro", itu adalah Slackware. Didirikan oleh Patrick Volkerding, Slackware adalah distribusi Linux tertua yang masih aktif dikembangkan. Awalnya berasal dari Softlanding Linux System (SLS), Volkerding memperbaikinya dan merilis Slackware.

Kenapa dia legendaris? Slackware itu murni, keras, dan jujur. Dia tidak punya package manager canggih seperti APT atau DNF. Manajemen paketnya sederhana, menggunakan format .tgz (tar + gzip). Jika kamu ingin instal software, seringkali kamu harus kompilasi sendiri dari source code atau mencari paket biner yang disediakan komunitas. Ini mengajarkan pengguna untuk benar-benar memahami sistem mereka.

Filosofi "Keep It Simple Stupid" (KISS) dipegang teguh. Tidak ada automasi yang berlebihan. Konfigurasi dilakukan dengan mengedit file teks secara manual. Ini membuat Slackware sangat stabil dan dapat diprediksi. Tidak ada yang "disembunyikan" oleh tool grafis. Kamu adalah majikan bagi sistemmu sendiri.

Pengalaman Pengguna: Menggunakan Slackware seperti kembali ke sekolah. Dia mendidik. Proses instalasinya yang berbasis teks (meski sekarang ada installer ncurses) adalah sebuah ritual. Dia jarang mengganti versi library inti secara drastis, memastikan stabilitas jangka panjang. Komunitasnya kecil tapi sangat loyal dan mendalam pengetahuannya.

Dampak & Keturunan: Meski tidak melahirkan distro turunan secara langsung seperti Debian, Slackware adalah inspirasi. Dia membuktikan bahwa distro yang sederhana dan konsisten bisa bertahan puluhan tahun. Banyak administrator sistem senior yang cuti gigi dengan Slackware.

Bagaimana dia bertahan? Dengan kesetiaan pada prinsip dan komunitas yang sangat dedikasi. Patrick Volkerding masih menjadi "Benevolent Dictator For Life". Pengembangan mungkin lambat (rilis bisa terpaut tahun), tapi setiap rilis adalah peristiwa penting yang ditunggu-tunggu. Slackware bertahan bukan karena mengejar trend, tapi karena menjadi dirinya sendiri—sebuah bastion stabilitas dan kesederhanaan dalam dunia yang serba cepat.

2. Debian (1993): Sang "Ibu" Universal dan Demokrasi Murni

Tahun Rilis: Agustus 1993 (rilis pertama 1996)
Pendiri: Ian Murdock
Filosofi: 100% Free Software, demokrasi partisipatif, stabilitas ekstrem.
Status Sekarang: Sangat aktif, basis bagi puluhan distro turunan (termasuk Ubuntu). Rilis terbaru Debian 12 "Bookworm".

Jika Slackware adalah bapak yang tegas, Debian adalah ibu yang welas asih, terbuka, dan melahirkan banyak anak. Didirikan oleh Ian Murdock (nama "Debian" berasal dari gabungan nama pacarnya saat itu, Debra, dan namanya, Ian), Dejian memiliki visi yang sangat idealis: menciptakan sistem operasi yang sepenuhnya terdiri dari perangkat lunak bebas (free software), dikelola secara demokratis oleh komunitas pengembangnya.

Kenapa dia legendaris? Debian bukan cuma distro; dia adalah sebuah proyek sosial. Struktur organisasinya sangat unik, diatur oleh sebuah konstitusi dan kontrak sosial. Setiap keputusan besar, seperti pemilihan Pemimpin Proyek (Project Leader), dilakukan melalui pemungutan suara oleh para Pengembang Debian (Debian Developers) yang tersertifikasi. Ini adalah model pemerintahan yang paling transparan dan partisipatif di dunia open source.

Sistem Manajemen Paket (APT & dpkg): Inilah mahakarya Debian yang mengubah segalanya. Advanced Packaging Tool (APT) adalah revolusi. Dengan perintah sederhana seperti apt-get update && apt-get upgrade, pengguna bisa memperbarui seluruh sistem dengan mulus, termasuk menyelesaikan dependensi secara otomatis. Ini adalah pengalaman yang jauh lebih mudah dibandingkan "dependency hell" di era awal Linux. Format paket .deb-nya menjadi standar de facto.

Siklus Rilis yang Bisa Diprediksi: Debian terkenal dengan siklus rilisnya yang lambat namun sangat stabil. Dia memiliki tiga cabang utama:

  • Stable (contoh: Bookworm): Sangat matang, diuji ekstensif, minim bug. Cocok untuk server dan produksi.
  • Testing (contoh: Trixie): Paket-paket yang sedang diuji untuk rilis stable berikutnya. Relatif stabil untuk desktop.
  • Unstable (Sid): Tempat paket baru masuk. Dinamis dan berisiko, tapi menyajikan software terbaru.

Model ini menjamin kualitas tertinggi untuk rilis stable-nya.

Dampak & Keturunan: Debian adalah "ibu" dari ekosistem distro terbesar: keluarga Debian. Ratusan distro berdiri di pundaknya, yang paling fenomenal adalah Ubuntu. Tanpa Debian, dunia Linux modern akan sangat berbeda. Popularitas Ubuntu justru memperkenalkan lebih banyak orang pada Debian, karena banyak yang akhirnya "naik kelas" ke Debian murni setelah belajar dari Ubuntu.

Bagaimana dia bertahan? Dengan fondasi komunitas yang kuat, prinsip yang jelas (Free Software), dan infrastruktur teknis yang sangat solid. Proyek Debian adalah contoh nyata bahwa kerja sukarela yang terorganisir dengan baik dapat menghasilkan produk kelas dunia. Dia bertahan karena menjadi fondasi yang dapat diandalkan oleh begitu banyak orang dan proyek lain.

3. Red Hat Linux / Fedora (1994/2003): Sang Inovator Enterprise & Komunitas

Tahun Rilis: Red Hat Linux: Oktober 1994. Fedora: November 2003.
Pendiri: Bob Young dan Marc Ewing (Red Hat). Dikelola Red Hat dan Komunitas (Fedora).
Filosofi: Inovasi terdepan (Fedora), stabilitas enterprise (RHEL).
Status Sekarang: Red Hat Linux berubah jadi RHEL (berbayar) pada 2003. Fedora sebagai proyek komunitasnya, sangat aktif. RHEL sangat dominan di sektor enterprise.

Kisah Red Hat adalah kisah tentang bagaimana Linux "naik kelas" ke dunia bisnis dan enterprise. Didirikan oleh Bob Young dan Marc Ewing, Red Hat Linux menjadi distro komersial pertama yang sukses besar. Mereka menjual boxset distro yang dilengkapi manual dan dukungan teknis.

Era Red Hat Linux (RHL): Distro ini populer karena kemudahan instalasinya (installer grafis Anaconda yang legendaris) dan manajemen paket RPM (Red Hat Package Manager). RPM adalah jawaban Red Hat untuk debian's .deb, dan menjadi standar utama lainnya. Red Hat Linux menjadi pilihan banyak pengguna dan perusahaan yang ingin mencoba Linux.

Perubahan Besar 2003: Pada tahun 2003, Red Hat membuat keputusan strategis yang membentuk ulang lanskap:

  1. Red Hat Enterprise Linux (RHEL): Dialihkan menjadi produk berbayar berlangganan (subscription) dengan dukungan jangka panjang (10 tahun), sertifikasi perangkat keras, dan layanan profesional. Ditargetkan untuk pasar korporat dan server mission-critical.
  2. Fedora Core (sekarang Fedora): Dirilis sebagai distro komunitas yang sepenuhnya gratis, menjadi tempat uji coba teknologi terbaru yang nantinya akan disaring ke RHEL. Fedora adalah "ujung tombak" inovasi.

Fedora: Sang Perekan Cepat Fedora dikenal sebagai distro yang selalu menyajikan teknologi Linux terbaru dan terpanas. Dia sering menjadi yang pertama mengadopsi sistem init baru (systemd), filesystem baru (Btrfs lalu beralih ke Stratis), desktop environment terbaru (GNOME sebagai default), dan teknologi kontainer (Podman, Buildah). Fedora adalah distro "bleeding edge" yang relatif stabil.

Dampak & Keturunan: Model "komunitas (Fedora) - enterprise (RHEL)" ini sangat sukses dan ditiru banyak pihak. RHEL menjadi raja di dunia server korporat. Dari RHEL, lahir banyak distro "clone" gratis seperti CentOS (dulu independen, kini dibawah Red Hat) dan Scientific Linux, serta turunan independen seperti Oracle Linux. Keluarga Red Hat/Fedora/CentOS/AlmaLinux/Rocky Linux membentuk ekosistem paling berpengaruh di dunia server.

Bagaimana dia bertahan? Red Hat (dan Fedora) bertahan karena berhasil menemukan formula yang tepat: mengkomersialisasi open source tanpa menghancurkannya. Dengan menciptakan RHEL yang andal untuk bisnis, mereka mendapatkan pendanaan untuk membayar developer, yang juga berkontribusi pada Fedora dan upstream project (seperti kernel Linux). Ini adalah simbiosis mutualisme antara komunitas dan korporasi yang sangat sukses, yang akhirnya mengantar Red Hat diakuisisi oleh IBM dengan nilai fantastis.

4. openSUSE (1994/2005): Sang Artisan yang Kokoh dan Fleksibel

Tahun Rilis: Awal sebagai SUSE Linux 1994, menjadi openSUSE 2005.
Pendiri: Roland Dyroff, Thomas Fehr, Burchard Steinbild, dan Hubert Mantel (SUSE).
Filosofi: Stabilitas, fleksibilitas konfigurasi, alat administrasi yang lengkap.
Status Sekarang: Sangat aktif. Dua edisi: openSUSE Leap (stabil, basis SUSE Linux Enterprise) dan openSUSE Tumbleweed (rolling release).

openSUSE, yang awalnya bernama SUSE Linux, adalah salah satu distro Eropa tertua. Namanya adalah akronim dari bahasa Jerman "Software und System Entwicklung" (Pengembangan Perangkat Lunak dan Sistem). Awalnya adalah distro komersial seperti Red Hat.

Kelebihan Utama: YaST Keunggulan paling ikonik dari openSUSE adalah YaST (Yet another Setup Tool). Ini adalah pusat kendali administratif berbasis grafis (dan teks) yang sangat komprehensif. Hampir semua aspek sistem dapat dikonfigurasi melalui YaST: partisi, jaringan, keamanan (firewall), instalasi software, konfigurasi layanan, dan banyak lagi. YaST membuat administrasi sistem menjadi terpusat dan mudah, terutama untuk administrator yang baru belajar.

Dua Jalan: Leap dan Tumbleweed Sejak 2015, openSUSE menawarkan dua pilihan yang brilian:

  • openSUSE Leap: Berbasis langsung dari SUSE Linux Enterprise (SLE). Artinya, Leap mendapatkan stabilitas dan keandalan kelas enterprise, tetapi tetap gratis dan diperbarui lebih sering daripada SLE. Cocok untuk pengguna desktop dan server yang mengutamakan stabilitas.
  • openSUSE Tumbleweed: Distro rolling release yang sangat stabil. Berbeda dengan Arch yang "bleeding edge", Tumbleweed menggunakan sistem pengujian otomatis (OpenQA) yang ketat sebelum merilis snapshot update. Hasilnya, kamu mendapatkan software terbaru dengan risiko kerusakan yang minimal. Ini adalah rolling release "yang bijak".

File System Btrfs dan Snapper: openSUSE adalah pionir dalam penggunaan filesystem Btrfs dengan tool Snapper secara default. Fitur ini memungkinkan kamu membuat snapshot sistem sebelum dan setelah pembaruan. Jika pembaruan menyebabkan masalah, kamu bisa dengan mudah melakukan rollback ke snapshot sebelumnya dalam hitungan menit. Ini adalah fitur penyelamat yang luar biasa.

Dampak & Keturunan: openSUSE mungkin tidak sepopuler Ubuntu atau Fedora di desktop, tapi dia sangat dihormati karena kualitas teknikalnya yang tinggi. Dia adalah pilihan favorit banyak developer, sysadmin, dan pengguna tingkat lanjut. SUSE Linux Enterprise (SLE) adalah pesaing serius RHEL di pasar enterprise Eropa dan global.

Bagaimana dia bertahan? Dengan fokus pada kualitas rekayasa (engineering quality), alat administrasi yang unggul (YaST), dan model pengembangan ganda (Leap/Tumbleweed) yang memenuhi kebutuhan beragam pengguna. Komunitas openSUSE sangat teknis dan bersemangat, didukung oleh perusahaan SUSE yang tetap berkomitmen pada proyek open source ini.

5. Arch Linux (2002): Sang Minimalis Rolling Release yang "Do-It-Yourself"

Tahun Rilis: Maret 2002
Pendiri: Judd Vinet
Filosofi: KISS (Keep It Simple), minimalis, user-centric, rolling release.
Status Sekarang: Sangat aktif dan populer, terutama di kalangan pengguna yang ingin kontrol penuh.

Arch Linux adalah sebuah fenomena budaya. Dia lahir dari filosofi yang sangat berbeda dengan distro "user-friendly" yang mulai marak saat itu. Judd Vinet, sang pendiri, ingin distro yang sederhana, elegan, dan memberikan pengguna kendali penuh.

Filosofi "Keep It Simple": Bagi Arch, "simple" bukan berarti "mudah". Simple berarti tidak berantakan, transparan, dan langsung ke inti. Arch Linux mengadopsi pendekatan do-it-yourself (DIY). Saat instalasi, kamu memulai dari sistem dasar yang sangat minimal (hanya command line). Dari sana, kamu sendiri yang membangun sistem sesuai kebutuhan, memilih komponen apa yang akan dipasang: desktop environment, window manager, aplikasi, dan sebagainya. Proses instalasinya adalah proses pembelajaran.

Rolling Release yang Murni: Arch adalah distro rolling release murni. Tidak ada versi rilis besar (seperti Ubuntu 22.04). Cukup instal sekali, lalu perbarui secara teratur (pacman -Syu), dan kamu akan selalu mendapatkan software versi terbaru. Ini menghilangkan kebutuhan untuk upgrade versi besar yang berisiko.

Pacman dan AUR: Arch memiliki dua senjata pamungkas:

  1. Pacman: Package manager yang cepat, sederhana, dan powerful. Perintahnya ringkas (misal, pacman -S firefox untuk install).
  2. Arch User Repository (AUR): Ini adalah inovasi jenius. AUR adalah repositori raksasa yang dikelola komunitas, berisi script (PKGBUILD) untuk membangun hampir semua software di dunia yang tidak ada di repositori resmi Arch. Dengan bantuan AUR helper (seperti yay atau paru), menginstal software dari AUR semudah dari repositori resmi. AUR adalah alasan utama kenapa Arch memiliki ketersediaan paket yang hampir tak terbatas.

Wiki yang Luar Biasa: Dokumentasi Arch Wiki diakui sebagai yang terbaik di dunia Linux. Lengkap, mendalam, terperinci, dan selalu diperbarui. Bahkan pengguna distro lain sering merujuk ke Arch Wiki untuk memecahkan masalah teknis.

Dampak & Keturunan: Arch mempengaruhi banyak distro modern yang mengadopsi filosofi rolling release dan minimalis. Dia juga melahirkan banyak turunan populer yang menyederhanakan instalasi Arch, seperti Manjaro (yang punya repositori sendiri), EndeavourOS (installer grafis untuk Arch murni), dan ArcoLinux.

Bagaimana dia bertahan? Arch bertahan karena memenuhi kebutuhan niche yang spesifik: pengguna yang ingin kontrol mutlak, ingin software terbaru, dan tidak takut untuk belajar. Komunitas Arch sangat besar, aktif, dan berkontribusi tinggi (terutama di AUR dan Wiki). Filosofi yang jelas dan konsisten membuat Arch selalu relevan bagi mereka yang mencari pengalaman Linux "murni" dan mandiri.

6. Gentoo (2002): Sang Meta-Distro yang Dioptimalkan Penuh

Tahun Rilis: Maret 2002
Pendiri: Daniel Robbins (awalnya bernama Enoch Linux)
Filosofi: Optimasi berbasis sumber (source-based), konfigurasi granular, kinerja maksimal.
Status Sekarang: Aktif, dengan komunitas yang kecil tapi sangat dedikatif dan teknis.

Jika Arch adalah "do-it-yourself", maka Gentoo adalah "build-it-yourself". Gentoo adalah distro source-based, yang berarti hampir semua software dikompilasi langsung dari kode sumber (source code) di mesin pengguna, sesuai dengan preferensi dan optimasi yang ditentukan.

Sistem Portage yang Powerfull: Inti dari Gentoo adalah Portage, manajemen paket yang ditulis dengan Python. Portage sangat fleksibel. Pengguna menentukan konfigurasi global dan per-paket melalui USE flags. Misalnya, kamu bisa menentukan apakah paket VLC dibangun dengan dukungan Blu-ray, codec tertentu, atau tanpa fitur yang tidak kamu butuhkan. Ini memungkinkan sistem yang sangat ramping dan sesuai kebutuhan.

Proses Kompilasi: Menginstal Gentoo adalah sebuah perjalanan. Prosesnya bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk sistem penuh, tergantung kekuatan CPU kamu. Ini bukan untuk yang tidak sabaran. Namun, bagi penggemarnya, proses kompilasi ini memiliki beberapa keuntungan:

  • Optimasi: Software dikompilasi dengan flag optimasi spesifik untuk arsitektur CPU kamu (misal, untuk Intel Core i7 generasi ke-10). Teorinya, ini bisa menghasilkan kinerja yang sedikit lebih baik.
  • Kontrol Mutlak: Kamu memutuskan setiap aspek dari setiap paket.
  • Pembelajaran Mendalam: Kamu akan memahami dependensi, toolchain, dan proses build seperti tidak ada distro lain yang bisa ajarkan.

Rolling Release: Seperti Arch, Gentoo adalah rolling release. Pembaruan dilakukan dengan mengompilasi ulang paket dari source terbaru.

Komunitas Elite: Komunitas Gentoo terkenal sangat teknis, sabar, dan membantu. Mereka menghargai pengetahuan dan kemandirian. Forum dan wiki Gentoo adalah gudang pengetahuan sistem operasi yang sangat berharga.

Dampak & Keturunan: Gentoo adalah distro "expert's expert". Pengaruhnya lebih pada ide dan filosofi daripada jumlah pengguna. Dia menginspirasi konsep kontrol granular dan optimasi. Beberapa distro turunan seperti Calculate Linux (yang menyediakan binary untuk mempercepat instalasi) dan Funtoo (fork oleh pendiri Gentoo, Daniel Robbins) melanjutkan warisan ini.

Bagaimana dia bertahan? Gentoo bertahan karena dia adalah sebuah "seni" dan "disiplin ilmu". Dia memenuhi kebutuhan sekelompok kecil pengguna yang menginginkan kontrol absolut dan tidak kompromi terhadap optimalisasi. Portage adalah sebuah karya teknik yang sangat dihormati. Selama ada pengguna yang ingin mengerti sistem sampai ke level kompilasi, Gentoo akan tetap hidup.

7. Ubuntu (2004): Sang Pembawa Revolusi ke Massa

Tahun Rilis: Oktober 2004
Pendiri: Mark Shuttleworth dan Canonical Ltd.
Filosofi: "Linux for human beings", kemudahan penggunaan, aksesibilitas.
Status Sekarang: Sangat aktif dan masih menjadi distro desktop paling populer.

Inilah distro yang mungkin paling bertanggung jawab membawa Linux ke pengetahuan umum. Didirikan oleh miliarder Afrika Selatan, Mark Shuttleworth, setelah sukses menjual perusahaannya, Ubuntu hadir dengan misi yang jelas: membuat Linux mudah digunakan oleh siapa saja, bahkan yang bukan teknisi.

Revolusi Kemudahan: Pada tahun 2004, banyak distro masih membutuhkan pengetahuan teknis untuk instalasi dan konfigurasi. Ubuntu datang dengan:

  • Live CD yang bisa dicoba tanpa instalasi.
  • Installer grafis yang sangat mudah dan intuitif.
  • Konfigurasi hardware (seperti WiFi dan driver grafis) yang bekerja "out of the box" untuk banyak perangkat.
  • Pilihan software default yang lengkap untuk kebutuhan sehari-hari (browser, office, pemutar media).
  • Siklus rilis yang teratur setiap 6 bulan (April dan Oktober), dengan rilis LTS (Long Term Support) setiap 2 tahun yang didukung 5 tahun.

Dukungan Komersial (Canonical): Kehadiran perusahaan Canonical di belakang Ubuntu adalah kunci. Mereka mendanai pengembangan, memiliki tim dukungan teknis, dan memastikan distro ini tetap relevan. Ini memberi kepercayaan diri bagi pengguna rumahan dan bisnis.

Ekosistem yang Luas: Ubuntu tidak sendirian. Dia cepat membangun keluarga besar:

  • Edisi Resmi: Kubuntu (KDE), Xubuntu (Xfce), Lubuntu (LXQt), Ubuntu MATE (MATE), Ubuntu Budgie, dll.
  • Untuk Server: Ubuntu Server menjadi pesaing serius di dunia cloud dan server.
  • Untuk IoT dan Cloud: Ubuntu Core untuk perangkat embedded dan Internet of Things.

Kontroversi dan Inovasi: Perjalanan Ubuntu tidak mulus. Beberapa keputusan kontroversial seperti pengadopsian Unity desktop (mengganti GNOME klasik) dan Mir display server (alih-alih Wayland) sempat memecah komunitas. Namun, mereka juga berinovasi dengan Snap, sistem paket universal yang kontroversial karena sifatnya yang tertutup di beberapa bagian. Kini, Ubuntu kembali ke GNOME sebagai default dan mengadopsi Wayland.

Dampak & Keturunan: Dampak Ubuntu sangatlah masif. Dia menarik jutaan pengguna baru ke Linux. Banyak distro turunan berbasis Ubuntu yang juga populer, seperti Linux Mint (yang awalnya adalah respon terhadap kontroversi Unity), elementary OS (fokus pada desain dan pengalaman pengguna), Pop!_OS (fokus pada developer dan gaming), dan ratusan lainnya. Ubuntu adalah "gateway drug" ke dunia Linux.

Bagaimana dia bertahan? Ubuntu bertahan karena berhasil memenuhi janjinya: menjadi Linux yang mudah dan bisa dipakai oleh semua orang. Dukungan korporat (Canonical), siklus rilis yang dapat diprediksi, basis pengguna yang sangat besar, dan kompatibilitas perangkat keras yang terus ditingkatkan membuatnya menjadi pilihan aman dan nyaman bagi banyak orang, dari pemula hingga profesional.

8. CentOS / Rocky Linux / AlmaLinux (2004/2021): Sang Klon Enterprise yang Setia

Tahun Rilis: CentOS: Mei 2004. Rocky Linux & AlmaLinux: 2021.
Pendiri: Gregory Kurtzer dkk (CentOS), Gregory Kurtzer (Rocky), CloudLinux Inc. (Alma).
Filosofi: Menyediakan rebuild RHEL yang gratis dan kompatibel 100%.
Status Sekarang: CentOS tradisional sudah berakhir (berganti jadi CentOS Stream). Rocky dan Alma sangat aktif sebagai pengganti.

Ini adalah kisah tentang kesetiaan, kompatibilitas, dan reaksi komunitas terhadap perubahan kebijakan korporat. Untuk memahami trio ini, kita perlu kembali ke RHEL.

Era Awal CentOS (Community ENTerprise OS): RHEL itu berbayar (berlangganan). Banyak komunitas, universitas, dan bisnis kecil ingin mendapatkan stabilitas RHEL tanpa harus membayar lisensi. CentOS lahir sebagai jawaban. Dia adalah rebuild dari kode sumber RHEL yang dipublikasikan secara gratis oleh Red Hat. Semua logo dan merek dagang Red Hat dihilangkan, tetapi fungsionalitas dan kompatibilitas biner (binary-compatible) 100% sama. CentOS menjadi tulang punggung ribuan server di seluruh dunia.

Perubahan Drastis 2020: Red Hat mengumumkan bahwa CentOS stabil tradisional akan dihentikan. CentOS 8 hanya didukung sampai 2021, bukan 2029 seperti yang diharapkan. Sebagai gantinya, mereka mengalihkan fokus ke CentOS Stream, yang posisinya bukan downstream (setelah RHEL), melainkan upstream (sebelum RHEL). Bagi komunitas yang mengandalkan stabilitas jangka panjang, ini adalah pukulan besar.

Kelahiran Rocky dan Alma: Dari kekosongan ini, lahir dua distro baru yang berjanji meneruskan warisan CentOS lama:

  1. Rocky Linux: Dipimpin oleh Gregory Kurtzer, salah satu pendiri CentOS asli. Namanya diambil dari salah satu pendiri CentOS lain, Rocky McGaugh, yang telah meninggal. Tujuannya jelas: menjadi "CentOS yang seharusnya", rebuild RHEL yang gratis dan stabil.
  2. AlmaLinux: Dikembangkan dan didanai oleh CloudLinux Inc., perusahaan yang sudah lama menjual OS khusus untuk hosting. Juga bertujuan sebagai pengganti CentOS yang kompatibel 1:1 dengan RHEL.

Filosofi dan Model: Keduanya mengikuti model CentOS klasik: mengambil kode sumber RHEL, membangunnya, dan mendistribusikannya secara gratis. Mereka bersaing secara sehat, dan keduanya telah mendapatkan dukungan komunitas dan korporat yang kuat.

Bagaimana mereka bertahan? Rocky dan Alma bertahan karena memenuhi kebutuhan pasar yang sangat nyata: stabilitas enterprise tanpa biaya langganan. Mereka adalah pilar bagi startup, lab penelitian, penyedia hosting, dan siapa saja yang ingin menjalankan workload penting di lingkungan yang stabil dan didukung dalam jangka panjang (mengikuti siklus dukungan RHEL 10 tahun). Keberadaan mereka juga menjaga keseimbangan ekosistem, memastikan ada alternatif komunitas yang kuat di luar kendali penuh Red Hat.

9. Puppy Linux (2003): Sang Distro Ringan yang Bisa Dibawa Kemana-mana

Tahun Rilis: Juni 2003
Pendiri: Barry Kauler
Filosofi: Ringan, cepat, portabel, dan ramah terhadap hardware lama.
Status Sekarang: Aktif, dengan beberapa varian utama (Fossapup, BionicPup, dll).

Di dunia distro yang semakin besar dan berat, Puppy Linux hadir sebagai penyeimbang. Filosofinya sangat berbeda: buat distro yang sangat kecil (biasanya dibawah 300MB) yang bisa berjalan lengkap di RAM (live), sangat cepat, dan bisa menyimpan perubahan pengguna dengan mudah.

Konsep "Live" yang Unik: Puppy dirancang untuk dijalankan dari USB flash drive, CD, atau bahkan disket (di masa lalu). Saat boot, seluruh sistem dimuat ke dalam RAM. Ini membuatnya sangat cepat karena akses RAM jauh lebih cepat daripada media penyimpanan. Setelah dimatikan, kamu bisa memilih untuk menyimpan sesi (seperti dokumen, pengaturan, software tambahan) ke sebuah file khusus (pup_save) di media penyimpanan.

Keringanan dan Kecerdikan: Puppy menggunakan window manager yang ringan (bukan desktop environment penuh) seperti JWM atau Openbox. Aplikasi-aplikasinya dipilih yang kecil namun fungsional. Misalnya, AbiWord dan Gnumeric sebagai pengganti LibreOffice yang besar. Dia juga cerdik dalam sharing library antar aplikasi untuk menghemat ruang.

Target Pengguna:

  • Pemilik komputer lama (bahkan Pentium III atau RAM 256MB).
  • Alat penyelamat (rescue disk) untuk memperbaiki sistem yang rusak.
  • Distro portabel yang bisa dibawa kemana-mana dan dipakai di komputer manapun tanpa menginstal.
  • Pengguna yang mengutamakan privasi (tinggal cabut USB, tidak meninggalkan jejak di komputer host).

Ekosistem "Puppy" yang Terfragmentasi: Karena sifatnya yang modular dan komunitas yang sangat kreatif, muncul banyak varian Puppy berdasarkan distro induk yang berbeda (Ubuntu, Slackware, dll) seperti Fossapup64 (berbasis Ubuntu), BionicPup (Ubuntu 18.04), dan Slacko Puppy. Masing-masing memiliki pengikutnya sendiri.

Bagaimana dia bertahan? Puppy bertahan karena memecahkan masalah yang diabaikan distro besar: menghidupkan kembali hardware lama dan menyediakan sistem yang portabel dan diskless. Filosofi "small is beautiful" masih relevan, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya atau untuk tujuan khusus. Komunitas Puppy sangat bersemangat dan terus berinovasi menjaga proyek ini hidup.

10. Linux Mint (2006): Sang Penyeimbang yang User-Friendly dan Elegan

Tahun Rilis: Agustus 2006
Pendiri: Clement Lefebvre ("Clem")
Filosofi: "From freedom came elegance", kemudahan penggunaan, pengalaman out-of-the-box yang lengkap.
Status Sekarang: Sangat aktif, sering berada di peringkat teratas distro populer di DistroWatch.

Linux Mint lahir sebagai respons terhadap kekurangan yang dirasakan pengguna Ubuntu (saat itu). Awalnya, Mint adalah seperangkat tambahan (codec multimedia, plugin, theme) di atas Ubuntu yang membuatnya lebih lengkap dan menarik. Namun, dia berkembang menjadi distro mandiri dengan filosofi yang kuat.

Kelebihan Utama: "It Just Works" Mint berfokus pada pengalaman pengguna yang mulus:

  • Kelengkapan Out-of-the-Box: Sudah termasuk codec multimedia (MP3, DVD, H.264, dll), plugin browser (Flash dulu, sekarang widevine untuk Netflix), driver proprietary (jika dibutuhkan), dan aplikasi lengkap. Pengguna tidak perlu mengetik perintah di terminal setelah instalasi.
  • Desktop Environment Pilihan: Mint menawarkan beberapa edisi dengan DE yang stabil dan familiar:
    • Cinnamon: DE buatan sendiri oleh tim Mint, modern namun tradisional (seperti menu start Windows 7). Sangat intuitif.
    • MATE: Kelanjutan dari GNOME 2 klasik, ringan dan produktif.
    • Xfce: Ringan dan efisien.
  • Alat Administrasi yang Sederhana: Mint memiliki serangkaian tool sendiri seperti Update Manager (yang memberi tingkatan keamanan pada pembaruan), Software Manager yang mudah digunakan, dan Driver Manager.

Stabilitas dan Konservatisme: Mint cenderung lebih konservatif daripada Ubuntu induknya. Mereka tidak terburu-buru mengadopsi teknologi baru yang belum matang (seperti systemd di masa awal, atau Snap). Mereka memprioritaskan stabilitas dan keandalan. Rilis Mint selalu berdasarkan Ubuntu LTS, sehingga mendapatkan dukungan jangka panjang.

Hubungan dengan Ubuntu dan Debian: Sebagian besar edisi Mint berbasis Ubuntu LTS. Namun, ada juga edisi LMDE (Linux Mint Debian Edition) yang berbasis langsung Debian. LMDE adalah "plan B" tim Mint, untuk memastikan jika suatu hari hubungan dengan Ubuntu bermasalah, mereka punya dasar yang independen.

Dampak & Keturunan: Linux Mint adalah distro yang paling sukses "memperbaiki" Ubuntu menurut selera komunitas. Dia membuktikan bahwa distro turunan bisa lebih populer daripada induknya. Pengaruhnya membuat Ubuntu dan distro lain lebih memperhatikan kelengkapan out-of-the-box dan kepuasan pengguna desktop biasa.

Bagaimana dia bertahan? Mint bertahan karena menjadi pilihan yang paling tidak merepotkan bagi pengguna desktop yang baru pindah dari Windows atau yang ingin sistem yang "bekerja dengan baik". Fokus pada stabilitas, dukungan media yang lengkap, dan antarmuka yang familiar (terutama Cinnamon) menjadikannya distro "rumah" yang nyaman bagi jutaan pengguna. Kepemimpinan "Clem" yang bijaksana dan responsif terhadap komunitas juga adalah kunci keberhasilannya.

Penutup: Pelajaran dari Perjalanan Panjang Sepuluh Legenda

Setelah menyusuri sejarah panjang sepuluh distro legendaris ini, apa saja pelajaran yang bisa kita ambil?

  1. Filosofi adalah Jiwa: Setiap distro yang bertahan memiliki filosofi inti yang jelas dan dipegang teguh. Slackware (KISS), Debian (Free Software & Demokrasi), Arch (Minimalis & DIY), Gentoo (Optimasi Source). Filosofi ini menarik komunitas yang sepaham dan menjadi kompas pengembangan.
  2. Komunitas adalah Nadi: Tidak ada distro yang bertahan lama tanpa komunitas yang kuat. Baik itu komunitas sukarela (Debian, Arch, Gentoo) maupun simbiosis dengan perusahaan (Red Hat/Fedora, SUSE/openSUSE, Canonical/Ubuntu). Komunitaslah yang melakukan testing, dokumentasi, dukungan, dan kontribusi kode.
  3. Adaptasi adalah Kunci: Distro yang bertahan tahu kana harus berubah. Red Hat berubah dari distro boxset ke model enterprise. openSUSE mengadopsi model Leap dan Tumbleweed. Ubuntu berani mengambil risiko dengan Unity meski akhirnya kembali. CentOS "bereinkarnasi" menjadi Rocky dan Alma. Mereka yang kaku dan tidak beradaptasi, punah.
  4. Ada Tempat untuk Semua: Ekosistem Linux kaya karena diversitas. Butuh stabilitas enterprise? Pilih RHEL/Rocky/Alma. Butuh kemudahan? Ubuntu/Mint. Butuh kontrol? Arch/Gentoo. Butuh ringan? Puppy. Butuh yang sederhana? Slackware. Tidak ada satu distro yang cocok untuk semua, dan itu baik adanya.
  5. Inovasi Berawal dari Kebutuhan: Inovasi besar seperti APT (Debian), RPM (Red Hat), YaST (openSUSE), AUR (Arch), Portage (Gentoo), Snaps/Flatpak (Canonical/Red Hat) lahir untuk memecahkan masalah spesifik yang dihadapi distro dan penggunanya.

Kesepuluh distro ini bukan sekedar kumpulan perangkat lunak. Mereka adalah perwujudan dari ide, cita-cita, dan kerja keras ribuan orang di seluruh dunia selama puluhan tahun. Mereka telah membentuk industri teknologi, menggerakkan server yang menjalankan internet, dan memberdayakan individu dengan kebebasan atas komputernya.

Jadi, distro mana favoritmu? Apakah kamu pengguna setia salah satunya, atau penjelajah yang suka berpindah-pindah? Apapun pilihanmu, ingatlah bahwa kamu adalah bagian dari sejarah panjang dan kaya ini. Teruslah menjelajah, belajar, dan berkontribusi. Karena kekuatan sejati dari GNU/Linux bukan pada kode-nya, tapi pada manusianya.

Selamat menjelajah, dan sampai jumpa di terminal!

Setiap komentar kami moderasi...
Silahkan berkomentar dengan bijak... Dilarang SPAM dan menyantumkan link aktif...
EmoticonEmoticon