Sabtu, 21 Februari 2026

10+ Distro Linux yang Mirip Android! Sejarah, Kelebihan & Cara Install

10+ Distro Linux yang Mirip Android!

Dunia Linux yang "Nyentrik": Ketika Desktop PC Kamu Berubah Jadi Smartphone Raksasa

Bayangkan ini: kamu duduk di depan PC atau laptop, tapi yang kamu lihat bukan desktop Windows atau macOS yang biasa. Tombol-tombolnya bulat dan berwarna-warni, notifikasi jatuh dari atas layar seperti di HP, ada dock aplikasi di bagian bawah, dan semua aplikasi ditata rapi dalam launcher layar penuh. Mirip banget, deh, sama Android di smartphone kamu! Ini bukan mimpi atau emulator, ini adalah kenyataan di dunia GNU/Linux yang super fleksibel.

Dalam artikel super lengkap ini (siap-siap baca lama, nih!), kita akan menyelami secara mendalam distro-distro Linux yang berani mengadopsi tampilan dan "feel" ala smartphone Android. Kita telusuri sejarahnya, definisinya dengan tepat, kupas tuntas kelebihan dan kelemahannya, plus panduan buat kamu yang penasaran pengen nyoba. Cocok buat yang pengen punya "all-in-one" experience atau sekadar mau bereksperimen.

Bab 1: Definisi & Filosofi - Apa Sih "Mirip Android" Itu Sebenarnya?

Sebelum kita terjun ke daftar, kita sepakatin dulu definisinya, biar ga salah paham. "Mirip Android" di sini bukan berarti distro Linux itu bisa jalankan aplikasi Android *tanpa* emulator (kecuali beberapa yang spesifik). Melainkan, lebih ke tampilan antarmuka pengguna (UI/UX) dan pola interaksi-nya yang terinspirasi dari perangkat mobile.

Ciri-ciri khas yang bikin "adem" di mata:

  • Launcher Berbasis Grid (Kotak-kotak): Aplikasi ditampilkan sebagai kumpulan ikon di halaman ber-grid, bisa di-geser (swipe) kiri-kanan, bukan menu dropdown ala Windows.
  • Status Bar & Notifikasi Pull-Down: Bagian atas layar menampilkan info baterai, sinyal (walau untuk Wi-Fi), waktu, dan notifikasi yang bisa ditarik ke bawah untuk akses cepat (quick settings).
  • Navigation Bar atau Gesture: Ada tombol virtual back, home, dan recent apps di bagian bawah, atau navigasi full gesture seperti swipe dari tepi.
  • Desain Aplikasi "Adaptif": Aplikasi dirancang untuk bisa berubah bentuk, dari mode mobile ke desktop (fenomena konvergensi).
  • Fokus pada Touchscreen (Opsional): Meski bisa dipakai dengan mouse/keyboard, UI-nya dibuat dengan elemen yang cukup besar dan jarak yang nyaman untuk sentuhan.

Jadi, intinya adalah pengalaman pengguna (UX) yang mobile-first. Filosofi di balik ini adalah penyatuan pengalaman (convergence) dan kemudahan untuk pengguna yang sudah sangat akrab dengan smartphone.

Bab 2: Kilas Balik Sejarah - Dari Desktop Kaku ke Mobile yang Lincah

Cerita ini ga bisa lepas dari dua hal: kegagalan dan visi besar. Awal 2010-an, dunia diramaikan oleh pertempuran sistem operasi mobile: iOS vs Android vs... yang lainnya. Komunitas Linux pun ga mau ketinggalan.

Proyek Perintis: Ubuntu Touch (2013)

Canonical, perusahaan di balik Ubuntu, punya mimpi besar: Ubuntu for Phones. Diumumkan tahun 2013, ini adalah upaya serius pertama untuk membawa Linux desktop yang utuh ke smartphone. Mereka membuat shell khusus bernama Unity 8 dan framework Mir display server. Filosofinya "convergence": HP kamu bisa di-dock ke monitor dan berubah jadi desktop PC lengkap! Sayangnya, pada 2017, Canonical menghentikan proyek ini karena kurangnya dukungan pasar dan fokus ke cloud. Namun, komunitas mengambil alih dan menjadikannya proyek independen yang masih hidup sampai sekarang!

Kemunculan Plasma Mobile (2015)

Tim KDE, yang terkenal dengan desktop Plasma yang sangat customizable, juga tidak mau kalah. Mereka meluncurkan Plasma Mobile, sebuah lingkungan desktop/UI yang dibangun di atas teknologi KDE (Plasma, Qt) untuk perangkat mobile. Berbeda dengan Ubuntu Touch yang agak "mandiri", Plasma Mobile lebih modular dan bisa dipasang di berbagai distro dasar. Ini menjadi fondasi bagi banyak distro "mirip Android" selanjutnya.

Era Modern & Diversifikasi

Dari dua akar utama itu (Ubuntu Touch/Lomiri dan Plasma Mobile), bermunculanlah berbagai distro turunan dan proyek independen. Muncul juga solusi "hybrid" seperti Phoenix OS yang membawa Android x86 ke PC. Sementara itu, proyek seperti PostmarketOS hadir dengan pendekatan berbeda: membawa Linux mainline (bukan Android) yang stabil ke smartphone bekas, memperpanjang umur perangkat secara drastis.

Sejarah ini menunjukkan bahwa keinginan untuk menyatukan pengalaman mobile dan desktop adalah impian yang terus dikejar oleh komunitas open-source.

Bab 3: Daftar Lengkap Distro & Lingkungan Desktop "Si Mirip Android"

Nah, ini dia bagian yang paling ditunggu! Kita bahas satu per satu, lengkap dengan detail, sasaran pengguna, dan cara dapatinnya.

3.1. Ubuntu Touch & Keluarga Lomiri

Status: Aktif (dikelola komunitas UBports Foundation).

Definisi: Ini adalah penerus spiritual dari proyek Ubuntu for Phones Canonical. Menggunakan lingkungan desktop sendiri yang dulu disebut Unity 8, sekarang bernama Lomiri. Sangat fokus pada privacy-by-design dan convergence.

Tampilan: Clean, elegan, dengan side-dash untuk akses aplikasi. Notifikasi dan quick settings yang intuitif. Benar-benar terasa seperti sistem operasi smartphone mandiri, bukan desktop yang dimodifikasi.

Distro Utama:

  • Ubuntu Touch (oleh UBports): Distro intinya, diinstall langsung ke perangkat mobile yang didukung (terutama Google Pixel 3, Fairphone, beberapa Xiaomi).
  • Lomiri pada Desktop Distro: Bisa dicoba dengan menginstall environment Lomiri di atas Ubuntu Desktop biasa (masih eksperimental).

Kelebihan:

  • Privasi kuat, tidak ada telemetry tersembunyi.
  • Fitur convergence asli (butuh hardware pendukung).
  • Komunitas yang sangat bersemangat dan supportive.
  • Update sistem yang terintegrasi penuh.

Kekurangan:

  • Dukungan hardware terbatas (hanya ponsel-ponsel tertentu).
  • Ekosistem aplikasi yang masih kecil (mengandalkan web apps, aplikasi native sederhana, atau kompatibilitas dengan aplikasi Android via Waydroid - terbatas).
  • Proses install untuk device spesifik bisa teknis.

Cocok untuk: Pengguna yang punya ponsel lama yang didukung, privacy enthusiast, dan penggemar proyek komunitas murni.

3.2. Plasma Mobile & Distro-Distronya

Status: Sangat Aktif (dikelola tim KDE dan komunitas).

Definisi: Plasma Mobile adalah sebuah "shell" interface yang dibangun di atas KDE Plasma. Ia bisa dipasang di berbagai distro Linux. Pengalaman yang dihasilkan sangat mirip dengan Android, dengan notifikasi, lock screen, dan app drawer yang familiar.

Tampilan: Sangat customizable (sesuai DNA KDE). Bisa diatur tema, warna, ikon, hingga perilaku navigasi. Tampilan default-nya modern dengan panel atas dan bawah.

Distro Utama:

  • KDE Neon: Bisa dipasang Plasma Mobile-nya (untuk pengembang/penguji).
  • Manjaro ARM Plasma Mobile: Versi Manjaro yang dioptimalkan untuk perangkat ARM (seperti PinePhone) dengan Plasma Mobile.
  • postmarketOS (dengan Plasma Mobile): Salah satu pilihan UI utama di PostmarketOS.
  • Arch Linux ARM + Plasma Mobile: Untuk yang suka rolling release dan DIY.

Kelebihan:

  • Customizable tingkat dewa.
  • Dukungan hardware lebih luas berkat arsitektur modular.
  • Terintegrasi dengan baik dengan aplikasi KDE yang kaya fitur.
  • Perkembangan sangat cepat.

Kekurangan:

  • Kadang ada bug kecil karena banyaknya variasi konfigurasi.
  • Dokumentasi bisa membingungkan bagi pemula karena banyaknya pilihan.
  • Konsumsi daya di beberapa perangkat belum optimal.

Cocok untuk: Tukang oprek, penggemar KDE, dan yang punya perangkat ARM seperti PinePhone atau tablet.

3.3. PostmarketOS: Linux yang Hidup di Saku

Status: Aktif (proyek komunitas yang unik).

Definisi: Bukan distro dengan UI tetap, melainkan distro Linux Alpine-based yang bertujuan memberi dukungan 10 tahun untuk satu perangkat smartphone. Kamu bisa memilih UI-nya: Plasma Mobile, Phosh (dari Purism), atau Sxmo (untuk tiling). Inilah yang membuatnya "mirip Android" - karena kamu bisa pilih shell mobile.

Tampilan: Tergantung pilihan UI. Phosh memberi pengalaman GNOME-based yang sederhana, Plasma Mobile memberi pengalaman KDE yang kaya.

Kelebihan:

  • Umur pakai perangkat diperpanjang secara ekstrem (dari Android 4 yang sudah tak di-update jadi Linux modern).
  • Ringan (basis Alpine), sangat stabil.
  • Security-focused.
  • Dukungan untuk banyak ponsel bekas (porting oleh komunitas).

Kekurangan:

  • Banyak fitur hardware yang mungkin belum berfungsi sempurna (camera, GPS, dll) tergantung porting-nya.
  • Proses install cukup teknis dan spesifik per device.
  • Aplikasi harus dikompilasi dari sumber (paket binary tersedia tapi terbatas).

Cocok untuk: Environmentalist yang anti ewaste, hacker, dan yang punya ponsel lama ingin dihidupkan kembali sebagai mini PC/server/alat khusus.

3.4. Phoenix OS / Prime OS: Android "Beneran" untuk PC

Status: Phoenix OS sudah tidak dikembangkan aktif, Prime OS masih ada.

Definisi: Ini BUKAN distro Linux tradisional, melainkan sistem operasi yang berbasis pada Android-x86. Mereka mengambil kode Android Open Source Project (AOSP) dan memodifikasinya agar bisa berjalan di PC x86/64 dengan interface yang dioptimalkan untuk mouse, keyboard, dan windowing. Jadi ini Android sesungguhnya, bukan Linux yang meniru Android.

Tampilan: Seperti Android tablet atau Chromebook. Ada taskbar, jendela aplikasi Android bisa di-resize, dan ada menu start style Android. Sangat familier bagi pengguna Android.

Kelebihan:

  • Akses penuh ke ekosistem aplikasi Android (Play Store bisa diinstall).
  • Gaming Android di PC dengan kontrol keyboard/mouse.
  • Ringan dan boot cepat.
  • Bisa diinstall berdampingan dengan Windows (dual-boot).

Kekurangan:

  • Bukan GNU/Linux, jadi aplikasi desktop Linux tidak bisa jalan.
  • Update keamanan tergantung tim pengembang, sering tertinggal dari Android resmi.
  • Kompatibilitas hardware PC tidak selengkap Linux desktop.
  • Beberapa versi mengandung adware (harap hati-hati dan download dari sumber resmi).

Cocok untuk: Gamers mobile yang ingin experience di layar besar, atau yang ingin punya sistem Android produktif di PC lama.

3.5. Dan Masih Banyak Lagi: Cutefish, Maui, dll

Cutefish OS (tidak aktif): Pernah populer karena UI-nya yang sangat elegan dan mirip macOS/iPadOS, tapi dengan sentuhan Android. Sayangnya, proyek ini sudah dihentikan. Namun, fork dan inspirasinya masih hidup di beberapa proyek lain.

Maui Shell / MauiKit: Proyek dari tim Nitrux, ini adalah shell convergent yang sedang berkembang. Dirancang untuk berjalan di atas Distro Maui atau KDE Neon. Fokus pada aplikasi yang adaptif (satu aplikasi untuk semua ukuran layar).

GNOME on Tablet Mode: GNOME 40+ sebenarnya sudah memiliki mode tablet yang sangat baik. Distro seperti Fedora Workstation di tablet atau laptop convertible dengan sentuhan akan memberikan pengalaman yang smooth dan mirip iPad, meski tidak persis seperti Android.

Bab 4: Kelebihan & Kekurangan - Cocok Buat Siapa Sih?

Setelah lihat daftarnya, pasti kamu mikir: "Emangnya ini bagus? Apa cuma buat gaya-gayaan doang?" Yuk, kita timbang bareng.

Kelebihan Utama:

  • User Experience yang Konsisten: Jika kamu hidup di dunia Android, beralih ke PC dengan interface mirip membuat kurva belajar hampir nol. Semuanya terasa familiar.
  • Ideal untuk Perangkat Touchscreen: Sangat cocok untuk tablet PC, laptop 2-in-1, atau monitor touch. Pengalaman sentuhan jadi lebih natural dibanding desktop tradisional.
  • Ringan dan Cepat (Beberapa Distro): Distro seperti PostmarketOS atau Phoenix OS sangat ringan, cocok untuk menghidupkan kembali hardware lama (PC atau ponsel) menjadi perangkat yang useful.
  • Privasi dan Kontrol: Khusus distro komunitas seperti Ubuntu Touch atau PostmarketOS, kamu dapat kontrol penuh, tanpa pelacakan iklan atau bloatware.
  • Eksperimen dan Pembelajaran: Sempurna untuk memahami konsep konvergensi, mobile computing, dan fleksibilitas ekosistem open source.

Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan:

  • Ekosistem Aplikasi yang Terbatas: Ini titik terlemah terbesar. Kamu tidak bisa asal install Photoshop, Office versi desktop, atau game AAA. Harus mengandalkan web apps, aplikasi native yang masih sedikit, atau kompatibilitas layer (Waydroid) yang belum sempurna.
  • Dukungan Hardware yang Spesifik dan Terbatas: Terutama untuk yang dijalankan di smartphone nyata (bukan PC). Hanya ponsel tertentu yang didukung, dan itupun belum tentu semua fitur (kamera, sensor) berjalan mulus.
  • Belum "Siap Produksi" untuk Umum: Bagi kebanyakan orang yang butuh kerja serius (zoom meeting, edit dokumen kompleks, programming dengan tool berat), ini masih belum bisa menggantikan Windows/macOS/Linux desktop mainstream.
  • Konsumsi Daya dan Stabilitas: Di perangkat mobile, pengelolaan daya (battery life) sering kali belum seoptimal Android atau iOS asli. Bisa juga lebih cepat panas.
  • Komunitas Kecil (Untuk Beberapa Distro): Jika ada masalah, mencari solusi di forum mungkin lebih sulit dibandingkan masalah di Ubuntu Desktop atau Windows.

Jadi, cocok buat siapa? Buat kamu yang: (1) Punya perangkat lama ingin dihidupkan dengan fungsi baru, (2) Penggemar teknologi dan suka bereksperimen, (3) Butuh perangkat sekunder untuk konsumsi konten (browsing, baca, media) dengan experience mobile, atau (4) Privacy-conscious user dengan kebutuhan aplikasi sederhana.

Bab 5: Panduan Memilih & Mencoba (Live USB/VirtualBox)

Kepincut untuk coba? Jangan buru-buru install di hardware utama! Ikuti panduan aman ini.

Langkah 1: Tentukan Tujuan

  • Pengen coba di PC/Laptop? Pilih yang berjalan di x86_64: Prime OS (untuk pengalaman Android asli) atau coba distro desktop biasa (seperti KDE Neon/Kubuntu) lalu install environment Plasma Mobile atau Maui Shell dalam sesi terpisah.
  • Pengen hidupkan HP lama? Cek dulu wiki.postmarketos.org atau devices.ubports.com apakah ponselmu didukung. Baca baik-baik status porting-nya (apa saja yang sudah berfungsi).
  • Pengen punya tablet Linux? Cari tablet x86 (seperti dari Chuwi) atau Raspberry Pi tablet, lalu install distro dengan Plasma Mobile atau Phoenix OS.

Langkah 2: Coba via Virtual Machine (Paling Aman)

Gunakan VirtualBox atau VMware.

  1. Download image ISO/LIVE CD dari distro pilihan (untuk Prime OS atau distro desktop dengan UI mobile).
  2. Buat mesin virtual baru, berikan RAM minimal 2GB (4GB lebih baik) dan storage 15-20GB.
  3. Pasang ISO-nya sebagai virtual CD dan boot.
  4. Pilih mode "Live" atau "Try without installing".

Ini memungkinkan kamu menjelajahi UI tanpa mengubah sistem komputer utama sama sekali.

Langkah 3: Coba via Live USB (Untuk PC/Tablet x86)

Mirip dengan virtual machine, tapi dijalankan langsung di hardware. Gunakan software seperti BalenaEtcher atau Rufus untuk membuat USB installer.

  1. Flash image ISO ke USB flashdisk (minimal 8GB).
  2. Restart PC, masuk ke BIOS/UEFI (tekan F2/Del/Esc saat boot), atur boot dari USB.
  3. Boot ke sistem Live. Hampir semua distro menyediakan opsi ini.
  4. Kamu bisa menguji dukungan hardware (Wi-Fi, touchscreen, sound) sebelum memutuskan install.

Peringatan: Jangan pilih "Install" kecuali kamu yakin dengan partisi disk yang dipilih!

Langkah 4: Install ke Perangkat (Langkah Lanjutan)

Jika sudah yakin setelah mencoba, barulah install permanen. Untuk perangkat mobile, prosesnya lebih teknis dan biasanya melibatkan unlocking bootloader dan flashing via command line. Selalu ikuti panduan resmi dari website distro terkait. Backup semua data penting di perangkat karena proses ini akan menghapus semua data.

Bab 6: Tren Masa Depan & Konvergensi

Lalu, apa masa depan dari distro-distro "cantik" ini? Apakah akan tetap menjadi proyek niche, atau bisa menjadi mainstream?

Konsep Konvergensi Makin Nyata: Dengan chip ARM yang makin powerful (seperti Apple Silicon), garis batas antara perangkat semakin tipis. Proyek seperti PureOS di Librem 5 phone atau Plasma Mobile terus menyempurnakan mimpi "satu OS untuk semua perangkat".

Framework Aplikasi Adaptif: Teknologi seperti Qt, GTK4, dan Flutter memungkinkan pembuatan aplikasi yang UI-nya bisa menyesuaikan bentuk layar. Ini pondasi penting agar aplikasi desktop bisa dengan mulus menjadi aplikasi mobile, dan sebaliknya.

Android Compatibility Layer yang Matang: Waydroid adalah container Android yang berjalan di atas Linux. Perkembangannya sangat menjanjikan. Di masa depan, distro Linux mobile mungkin bisa menjalankan aplikasi Android dengan performa native, mengatasi masalah kekurangan aplikasi.

Pendorong dari Hardware: Munculnya perangkat "hybrid" seperti Steam Deck (yang secara teknis adalah PC handheld dengan Linux) membuktikan ada pasar untuk perangkat non-tradisional. Ini bisa membuka jalan untuk lebih banyak tablet atau handheld PC dengan Linux UI mobile-first.

Intinya, meski saat ini masih di pinggiran, ide di balik distro-distro ini adalah ujung tombak inovasi. Mereka bereksperimen dengan ide yang mungkin suatu hari, ketika teknologi dan pasar sudah siap, akan diadopsi oleh sistem yang lebih besar.

Kesimpulan & Rekomendasi Akhir

Jadi, gimana? Sudah dapat gambaran yang super lengkap? Distro Linux yang mirip Android itu adalah bukti nyata kreativitas dan fleksibilitas dunia open-source. Mereka hadir bukan untuk "menggantikan" Android atau Windows, tetapi untuk memberikan pilihan dan mewujudkan visi tentang bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan berbagai perangkat.

Rekomendasi Berdasarkan Profil:

  • Pemula yang Penasaran & Punya PC: Coba Prime OS di VirtualBox. Paling mudah dan familier.
  • Pengoprek yang Punya Ponsel Lama Didukung: Coba PostmarketOS dengan Plasma Mobile atau Ubuntu Touch. Siap-siap baca wiki dan forum.
  • Penggemar KDE & Customization: Install KDE Neon atau Kubuntu di PC, lalu coba sesi Plasma Mobile. Atau beli PinePhone.
  • Yang Cuma Pengen Lihat Wajahnya Doang: Cari video review di YouTube tentang "Plasma Mobile", "Ubuntu Touch", atau "PostmarketOS".

Dunia Linux itu seperti playground raksasa. Distro-distro dengan tampilan mirip Android ini adalah salah satu wahana yang paling seru dan futuristik di dalamnya. Jadi, kalau kamu punya waktu luang dan rasa penasaran yang tinggi, jangan ragu untuk mencoba. Siapa tahu, kamu justru akan menemukan "home" yang baru untuk perangkat-perangkat lamamu.

Selamat bereksperimen, dan jangan lupa berbagi pengalamanmu di forum-forum Linux Indonesia!

Disclaimer: Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi. Penulis dan blog tidak bertanggung jawab atas kerusakan perangkat atau kehilangan data akibat proses instalasi. Lakukan dengan penuh kesadaran dan persiapan backup.

Tentang Penulis: Sebagai seorang penggemar Linux dan teknologi mobile, penulis telah mencoba berbagai distro dalam daftar ini sebagai hobbiest. Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman pribadi dan penelitian dari sumber komunitas resmi.

Setiap komentar kami moderasi...
Silahkan berkomentar dengan bijak... Dilarang SPAM dan menyantumkan link aktif...
EmoticonEmoticon