Gila! Kenapa Banyak Amat Turunan Ubuntu? Bingung Gue Mau Nyoba Yang Mana!
Halo bro, sis! Pernah nggak sih lo lagi pengen coba Linux, terus buka situs distrowatch atau forum linux, trus lihat ada RATUSAN pilihan distro yang klaimnya "based on Ubuntu"? Kubuntu, Xubuntu, Lubuntu, Ubuntu MATE, Ubuntu Budgie, KDE neon, Linux Mint, Pop!_OS, elementary OS, Zorin OS, dan masih banyak lagi yang bahkan namanya aneh-aneh. Duh, pusing! Kayak mau beli mie instan aja, tapi nemunya seratus merek dengan klaim "lebih enak, lebih ringan, lebih keren".
Gue sendiri dulu pernah mengalami "Distro Hopping Syndrome" akut – gonta-ganti distro hampir tiap minggu, cari yang "pas" di hati. Capek, bingung, dan akhirnya sadar: fenomena banyaknya turunan Ubuntu ini bukan tanpa sebab, dan sebenernya ini adalah kekuatan sekaligus kelemahan dunia Linux.
Nah, di artikel super lengkap ini (sumpah, gue bakal bahas tuntas!), kita bakal ngobrol dari awal banget: sejarah Ubuntu dan kenapa dia bisa "ditelan" begitu mudah, filosofi di balik varian-variannya, sampai ulas satu per satu varian utama plus distro turunan populernya. Lo bakal ngerti konteksnya, jadi nggak lagi bingung milih, dan bisa tentukan mana yang cocok buat kebutuhan lo. Siapin kopi dulu, bacanya bakal panjang dan (semoga) berfaedah!
Bab 1: Asal Muasal – Dari Debian Sampai Ubuntu Jadi Raja
1.1. Debian: Sang Kakek yang Stabil (Tapi Terlalu Hati-Hati)
Ceritanya mulai dari Debian. Didirian sama Ian Murdock tahun 1993, Debian itu ibaratnya proyek komunitas murni yang sangat mengutamakan kestabilan, kebebasan, dan filosofi open source yang kuat. Sistem paket APT-nya revolusioner. Tapi, karena proses pengembangannya yang sangat demokratis dan hati-hati, rilis stabilnya itu lama banget (bisa 2+ tahun). Buat desktop yang pengen software terbaru, ini jadi masalah. Debian itu seperti kakek yang bijak tapi pelan. Dari sinilah Mark Shuttleworth, pengusaha asal Afrika Selatan, melihat celah.
1.2. Kelahiran Ubuntu: "Linux for Human Beings"
Tahun 2004, Mark Shuttleworth dan timnya mendirikan Canonical Ltd. dan meluncurkan Ubuntu 4.10 (Warty Warthog). Filosofinya sederhana tapi powerful: membawa Linux ke khalayak umum. Ambil basis Debian yang stabil (paket APT-nya diwarisi), lalu dibikin lebih mudah, lebih baru, dan rilis teratur setiap 6 bulan. Dukungan komersial dari Canonical bikin proyek ini punya deadline dan target yang jelas.
Kunci Kesuksesan Ubuntu:
- Live CD & Instalasi Mudah: Bisa coba langsung dari CD tanpa instal. Instalasinya user-friendly banget untuk zamannya.
- Rilis Terjadwal: Setiap April dan Oktober. Bisa diprediksi.
- Dukungan Komunitas & Komersial: Forum yang ramai dan dukungan paid dari Canonical untuk enterprise.
- Fokus Desktop: Awalnya fokus bikin desktop yang "just works" dengan GNOME 2.
Ubuntu meledak! Dia jadi pintu gerbang utama orang masuk ke dunia Linux. Tapi, satu desktop environment (DE) saja nggak cukup buat semua orang.
Bab 2: Ledakan Varian Resmi – "Satu Ubuntu, Banyak Rasa"
Inilah akar masalah (sekaligus keindahan) yang lo lihat. Desktop Environment (DE) itu seperti kulit dan kerangka antarmuka komputer lo. GNOME, KDE, XFCE, LXQt, MATE, Budgie – semuanya punya filosofi dan kebutuhan sumber daya berbeda. Daripada memaksa satu DE (GNOME) ke semua orang, Ubuntu punya strategi cerdas: bikin varian resmi (official flavours) yang dikelola komunitas, tapi didukung penuh oleh repositori dan siklus rilis Ubuntu inti.
2.1. Kubuntu – Untuk Penggemar KDE Plasma
Sejarah Singkat: Salah satu varian tertua. Membawa KDE Plasma yang terkenal sangat kustomisasi, modern, dan punya fitur lengkap.
- Kelebihan: UI/UX mirip Windows (bagi yang transisi), efek visual keren, aplikasi KDE suite (Krita, Kdenlive) terintegrasi baik. Cocok buat power user yang suka utak-atik.
- Kelemahan: Relatif lebih berat dari GNOME, kadang terasa "bloated" (kebanyakan fitur), konsumsi RAM lebih tinggi. Bisa kurang stabil di masa-masa awal rilis KDE major version.
- Target Pengguna: Mantan Windows power user, desainer, developer yang butuh DE super fleksibel.
2.2. Xubuntu – Ringan dan Efisien dengan XFCE
Sejarah Singkat: Hadir buat hardware jadul atau yang mau performa maksimal. DE XFCE-nya cepat, stabil, dan hemat resource.
- Kelebihan: Sangat ringan (RAM minimal 512MB bisa jalan), responsif, UI sederhana dan fungsional, konfigurasi mudah.
- Kelemahan: Tampilan kurang "wah" dan modern, fitur kurang cutting-edge. Terkadang terasa terlalu sederhana.
- Target Pengguna: Pemilik laptop/PC lawas, sysadmin yang butuh desktop minimal di server, orang yang nggak mau gangguan dan mau semua cepat.
2.3. Lubuntu – Sangat Ringan dengan LXQt
Sejarah Singkat: Awalnya pakai LXDE, sekarang pakai LXQt. Targetnya lebih ringan lagi dari Xubuntu. Buat PC jaman baheula banget.
- Kelebihan: Extremely light (bisa jalan di RAM 256MB!), instalasi kecil, cepat banget.
- Kelemahan: Tampilan sangat sederhana, integrasi dan polishing kurang dibanding varian lain. Bisa butuh konfigurasi manual lebih banyak.
- Target Pengguna: Revive komputer tua, netbook, atau buat yang benar-benar ingin minim resource usage.
2.4. Ubuntu MATE – Nostalgia dengan Sentuhan Modern
Sejarah Singkat: Lahir setelah GNOME 2 ditinggalkan (berevolusi jadi GNOME 3). MATE adalah fork dari GNOME 2 yang legendaris itu. Rasa klasik yang stabil.
- Kelebihan: Stabil, ringan (tapi nggak seekstrem LXQt), familiar buat pengguna Ubuntu jadul, kustomisasi cukup baik.
- Kelemahan: Tampilan terkesan "jadul" bagi yang mau look modern. Perkembangan fitur agak lambat.
- Target Pengguna: Pengguna lama Linux yang rindu GNOME 2, yang ingin desktop sederhana dan predictable.
2.5. Ubuntu Budgie – Elegan dan Modern
Sejarah Singkat: Varian yang relatif baru, mengusung DE Budgie yang awalnya dari proyek Solus OS. Fokus pada kemodernan dan elegan yang sederhana.
- Kelebihan: Tampilan clean, modern, dan elegan. Raven sidebar-nya keren buat notifikasi dan customisasi. Opsi kustomisasi baik tanpa ribet.
- Kelemahan: Komunitas pengembang lebih kecil, kadang ada bug spesifik Budgie. Masih terus berkembang.
- Target Pengguna: Pengguna yang ingin tampilan macOS-like atau yang suka clean design, tapi nggak mau ribet konfigurasi.
Nah, itu baru varian resmi! Mereka pakai repositori yang sama, rilis bersamaan, cuma beda DE default dan aplikasi bawaan. Jadi, di balik layar, mereka semua Ubuntu. Tapi, cerita nggak berhenti di sini.
Bab 3: Distro Turunan (Derivatives) – Ketika Komunitas Berinovasi Lebih Jauh
Ini tingkatannya lebih tinggi. Distro turunan nggak cuma ganti DE. Mereka sering modifikasi lebih dalam: tema, aplikasi default, konfigurasi sistem, tambahan repo sendiri, bahkan kadang punya filosofi yang berbeda dari Ubuntu. Mereka seperti franchise yang bikin restoran dengan menu dan konsep sendiri, tapi bahan dasarnya masih dari supplier utama (Ubuntu).
3.1. Linux Mint – Raja Popularitas yang Memberontak Lembut
Sejarah & Filosofi: Lahir tahun 2006 sebagai respons terhadap ketidakpuasan sebagian komunitas terhadap Ubuntu (terutama saat transisi ke Unity). Filosofi Mint: "from freedom came elegance". Fokus pada kenyamanan pengguna, kelengkapan out-of-the-box, dan pengalaman yang "works for you".
- Kelebihan:
- Out-of-the-box experience: Sudah include codec multimedia, flash, dll. Tinggal instal dan pakai.
- Cinnamon/MATE/XFCE: Cinnamon DE-nya (yang dikembangkan sendiri) mirip Windows dan sangat user-friendly.
- Update Manager yang Bijak: Bisa pilih level update, ada opsi untuk hindari update kernel yang berpotensi bikin rusak.
- Komunitas Besar dan Ramah: Salah satu komunitas paling supportive untuk pemula.
- Kelemahan:
- Basisnya agak tertinggal: Biasanya based pada Ubuntu LTS, dan rilisnya beberapa bulan setelah rilis Ubuntu LTS. Jadi dapat versi software yang sedikit lebih tua.
- Bisa terasa "konvensional": Nggak terlalu inovatif di sisi teknologi baru, lebih memprioritaskan kestabilan.
- Kenapa Ada? Untuk memberikan alternatif yang lebih "aman" dan nyaman bagi migran Windows, tanpa harus berurusan dengan kompleksitas Ubuntu murni. Jawaban buat lo yang bingung: Mint sering jadi rekomendasi #1 untuk pemula absolut.
3.2. Pop!_OS – Distro Para Creator dan Developer
Sejarah & Filosofi: Dibuat oleh System76, perusahaan pembuat laptop/PC Linux. Target awal: distro yang dioptimalkan untuk hardware mereka. Sekarang berkembang jadi distro umum yang fokus pada produktivitas, developer workflow, dan dukungan GPU (terutama NVIDIA) yang flawless.
- Kelebihan:
- Manajemen GPU Terintegrasi: Install driver NVIDIA semudah klik. Auto-switching GPU hybrid? Ada!
- Window Tiling Otomatis: DE Pop Shell (modifikasi GNOME) punya sistem tiling yang powerful buat multi-tasking.
- Fokus Sains & Development: Banyak tool development dan ML/AI pre-configured.
- Clean dan Modern: Tema dan ikonnya konsisten dan enak dipandang.
- Kelemahan:
- Identity kuat System76: Kadang terasa seperti "distro hardware vendor".
- Modifikasi GNOME yang cukup dalam: Bagi yang suka GNOME vanilla, mungkin kurang sreg.
- Kenapa Ada? Mengisi ceruk yang spesifik: pengguna yang butuh performa grafis maksimal dan workflow produktivitas terstruktur. Rekomendasi buat lo yang punya laptop GPU hybrid atau kerja di bidang development/data science.
3.3. elementary OS – "The macOS of Linux"
Sejarah & Filosofi: Fokus pada desain yang elegant, konsisten, dan user experience yang prima. Mereka punya Pedoman Desain (Human Interface Guidelines) yang ketat, mirip Apple. Bahkan aplikasi defaultnya banyak yang dibuat khusus (Pantheon DE, Files, Code, etc.).
- Kelebihan:
- Desain Tertata dan Indah: Mungkin distro Linux terbaik dari segi UI/UX dan konsistensi visual.
- Simple by Default: Nggak ada yang ribet, cocok buat pengguna yang ingin "it just works" tanpa konfigurasi.
- AppCenter yang Terkurasi: Aplikasi di AppCenter melalui review, jadi kualitas UI/UX-nya relatif terjaga.
- Kelemahan:
- Sangat Opatin: Customisasi dibatasi. Kalau lo suka utak-atik tema, ini bukan distro lo.
- Basis Rilis Sangat Jauh: Based on Ubuntu LTS yang sudah tua di akhir siklusnya. Software-nya kadang sangat ketinggalan.
- Model Pembayaran "Pay What You Want": Bisa di-download gratis dengan masukkan $0, tapi ini sering jadi kontroversi.
- Kenapa Ada? Membuktikan Linux bisa punya standar desain dan polish yang tinggi. Cocok buat lo yang demen estetika macOS, nggak mau ribet, dan punya hardware yang compatible.
3.4. Zorin OS – Jembatan dari Windows yang Mulus
Sejarah & Filosofi: Khusus didesain untuk memudahkan migrasi pengguna Windows (dan macOS). Punya fitur "Look Changer" yang bisa mengubah desktop mirip Windows 7, 10, atau macOS dengan satu klik.
- Kelebihan:
- Transisi Tanpa Rasa: Pengguna Windows bisa langsung familiar. Semua shortcut dan layout bisa disetel mirip.
- Banyak Software Windows yang Bisa Dijalankan: Pre-configured dengan Wine dan PlayOnLinux untuk aplikasi Windows.
- Terlihat Premium: Tema defaultnya bagus dan profesional.
- Kelemahan:
- Versi Pro Berbayar: Untuk fitur look changer lengkap dan beberapa template premium harus beli Pro version.
- Inovasi teknis kurang: Fokus lebih pada pengalaman permukaan daripada inovasi di bawah hood.
- Kenapa Ada? Menyasar pasar yang sangat spesifik: perusahaan atau individu yang ingin migrasi dari Windows tapi takut dengan perubahan drastis. Rekomendasi buat nyokap/ bokap/ kantor lo yang mau pindah dari Windows.
Bab 4: Analisis Mendalam – Kelebihan dan Kelemahan Ekosistem Turunan Ubuntu
4.1. Kelebihan (Mengapa Fenomena Ini Hebat)
- Pilihan = Kebebasan: Inilah esensi open source. Setiap orang bisa membuat versinya sesuai kebutuhan. Ada yang untuk pemula, untuk hacker, untuk artist, untuk sysadmin.
- Inovasi Terdistribusi: Pop!_OS berinovasi di manajemen GPU, elementary di desain, Mint di user experience. Inovasi ini bisa saling menginspirasi.
- Memenuhi Ceruk Khusus: Dunia nggak cuma butuh satu jenis desktop. Turunan memenuhi ceruk hardware lama, kebutuhan spesifik pekerjaan, atau preferensi estetika.
- Komunitas yang Hidup: Setiap distro punya komunitasnya sendiri. Lo bisa cari yang sefrekuensi.
- Basis yang Sama = Kompatibilitas: Karena basisnya Ubuntu, tutorial, troubleshooting, dan .deb package untuk Ubuntu umumnya bisa dipakai di turunannya. Ini mengurangi fragmentasi sebenarnya.
4.2. Kelemahan (Sumber Kebingungan Lo)
- Paradoks of Choice: Terlalu banyak pilihan bikin orang stres dan akhirnya nggak memilih. Ini yang lo alami sekarang.
- Duplikasi Upaya: Sumber daya developer terpecah. Daripada fokus memperbaiki satu distro, mereka sibuk maintain distro sendiri-sendiri.
- Kualitas Tidak Merata: Ada distro turunan yang dikelola baik, ada juga yang asal jeblug dan bisa hilang dalam semalam. Risiko untuk pengguna.
- "Distro Hopping" Menjadi Penyakit: Banyak orang jadi terjebak mencoba-coba terus, alih-alih benar-benar menggunakan komputernya untuk bekerja.
- Kebingungan Dukungan: Saat ada masalah, kadang bingung: ini masalah dari Ubuntu-nya, dari DE-nya, atau dari modifikasi distro turunannya?
Bab 5: Panduan Memilih – Stop Bingung, Yuk Temukan Pasanganmu!
Gue bikin flowchart sederhana di pikiran lo:
- Lo pemula total dari Windows/macOS?
- Pengen yang mirip Windows & stabil -> Linux Mint (Cinnamon).
- Pengen yang mirip macOS & elegan -> elementary OS atau Ubuntu Budgie.
- Pengen yang transisi mudah sekali -> Zorin OS.
- Pengen yang "standar" dan dokumentasi terbanyak -> Ubuntu (GNOME) langsung.
- Lo punya hardware lawas atau ingin yang ringan?
- PC sangat tua (RAM <1GB) -> Lubuntu.
- Laptop mid-end (RAM 2-4GB) -> Xubuntu atau Ubuntu MATE.
- Lo power user / developer / konten kreator?
- Pake GPU NVIDIA & suka tiling -> Pop!_OS.
- Suka kustomisasi ekstrem -> Kubuntu atau KDE Neon.
- Butuh yang solid dan familiar -> Ubuntu atau Linux Mint.
- Lo nggak mau pusing, langsung mau coba?
- Buat Live USB Ubuntu dan Linux Mint. Coba keduanya tanpa instal. Rasakan mana yang lebih enak di mata dan tangan lo. Ikuti feeling.
Kunci Rahasia: Pada dasarnya, mereka semua adalah Ubuntu. Perbedaan utama di awal adalah tampilan dan aplikasi bawaan. Software yang bisa diinstall di Ubuntu, bisa diinstall di semua turunannya. Jadi, pilih yang menurut lo paling enak dipandang dan digunakan saat pertama kali. Kalau nanti kurang sreg, lo bisa instal DE lain di distro yang sudah terpasang. Nggak harus ganti distro!
Bab 6: Masa Depan – Akankah Terus Bertambah atau Konsolidasi?
Trend-nya sekarang justru sedikit konsolidasi. Banyak proyek yang mati suri. Komunitas mulai sadar bahwa maintain distro sendiri itu kerjaan berat. Mungkin ke depan, kita akan melihat:
- Distro besar akan tetap bertahan (Mint, Pop, elementary).
- Varian resmi Ubuntu akan terus ada sebagai kanal untuk DE utama.
- Distro-distro kecil akan bermunculan dan menghilang sebagai bagian dari siklus alam.
- Flatpak/Snap/AppImage akan mengurangi ketergantungan pada repositori distro spesifik, sehingga perbedaan distro akan semakin tipis (tinggal pilih DE dan default app).
Kesimpulan
Jadi, kenapa banyak banget turunan Ubuntu? Karena mereka bisa, dan karena ada kebutuhannya. Ini adalah manifestasi dari kebebasan dan hak untuk memodifikasi yang jadi jantung open source. Kebingungan lo adalah harga kecil yang dibayar untuk kekayaan pilihan yang luar biasa ini.
Nggak usah terlalu dipusingin. Anggap saja seperti pilihan rasa kopi. Ada yang suka Americano (Ubuntu vanilla), ada yang suka Latte (Mint), ada yang suka yang ada tambahan krim dan caramel (elementary OS). Yang penting kopinya sama-sama enak dan bikin melek (dalam hal ini: Sistem Operasi yang gratis, aman, dan powerful).
Saran terakhir gue: Untuk pertama kali, pilih Linux Mint atau Ubuntu biasa. Gunakan selama 6 bulan. Jangan distro hop. Pelajari dalam-dalam. Kalau nanti merasa ada kebutuhan spesifik, baru lah migrasi dengan pengetahuan yang cukup. Selamat mencoba, dan welcome to the jungle!
Diskusi: Lo pake distro apa sekarang? Cerita dong pengalaman lo di komentar! Buat yang masih bingung, tanya aja, gue bantu jawab semampunya.

Setiap komentar kami moderasi...
Silahkan berkomentar dengan bijak... Dilarang SPAM dan menyantumkan link aktif...
EmoticonEmoticon