Minggu, 11 Januari 2026

Kenapa Banyak Orang Benci Pakai MacOS

kenapa banyak yang benci MacOS

Dibalik Kilau Logo Apel: Mengapa Banyak Orang “Benci” Menggunakan MacOS?

Dunia teknologi terbagi menjadi beberapa kubu. Ada yang fanatik, ada yang acuh, dan ada yang… benci. Kalau kita bicara sistem operasi, perang antara Windows, macOS, dan Linux adalah perang abadi yang penuh dengan meme, debat kusir, dan argumen yang berujung pada preferensi pribadi. Tapi, ada satu fenomena yang menarik: kebencian terhadap macOS (dulu OS X) sering kali terasa lebih personal, lebih emosional, dan lebih keras dibanding sekadar memilih merek lain.

Kenapa ya? Apa iya hanya karena harganya mahal? Atau ada sesuatu yang lebih dalam? Artikel ini akan membedah sampai tuntas, dengan jujur dan santai, akar dari “kebencian” atau ketidaksukaan banyak orang terhadap ekosistem Mac. Kita akan telusuri dari sudut pandang pengguna biasa, gamer, power user, sampai admin IT. Siapkan kopi, karena ini akan panjang dan mendalam!

Bab 1: Pertemuan Dua Dunia yang Bertolak Belakang – Filosofi “Walled Garden”

Semua masalah berawal dari sini: filosofi. Apple, sejak era Steve Jobs kembali, punya prinsip kuat: “It just works”. Tapi, di balik slogan simpel itu, ada konsep bernama “Walled Garden” atau Taman Berdinding.

Apa Itu Walled Garden?

Bayangkan sebuah taman yang indah, tertata rapi, rumput selalu hijau, bunga bermekaran, tidak ada sampah, dan semuanya aman. Tapi, taman itu dikelilingi tembok tinggi. Anda bisa masuk, tapi harus bayar tiket mahal (beli Mac). Di dalam, Anda menikmati keindahan, tapi Anda tidak bisa menanam pohon sesuka hati, menggali kolam, atau memasang patung model aneh-aneh. Semua sudah diatur oleh sang tukang kebun (Apple).

MacOS adalah taman itu. Apple mengontrol hampir segalanya: hardware, software, toko aplikasi (App Store), bahkan cara Anda berinteraksi. Hasilnya? Stabilitas dan keamanan yang luar biasa. Virus? Jarang. Driver konflik? Hampir tak ada. Crash? Bisa dihitung.

Nah, di sinilah sumber kebencian pertama muncul: rasa dikungkung. Bagi yang terbiasa dengan “hutan belantara” Windows atau “daratan bebas” Linux, dimana mereka bisa utak-atik registry, ganti GPU, pasang driver versi beta, atau install software dari mana saja, MacOS terasa seperti penjara mewah.

Analogi sederhana: Pengguna Windows/Linux merasa seperti punya mobil modifikasi. Mereka bisa ganti mesin, pasang knalpot racing, cat ulang, dan lain-lain. Pengguna Mac merasa seperti naik mobil Tesla yang semuanya sudah optimal, tertutup, dan kalau mau servis harus ke bengkel resmi. Bagi yang suka modifikasi, Tesla itu menyebalkan!

Bab 2: Harga – “Mahalnya Bukan Main, Buat Gaya Doang?”

Ini alasan paling klise, tapi paling nyata. Sebuah MacBook Air M1 basic dengan 8GB RAM dan 256GB SSD harganya bisa dua kali lipat laptop Windows dengan spesifikasi kertas yang mirip. “Lah, kan chip M1 lebih efisien!” benar, tapi bagi konsumen awam, angka 8GB dan 256GB adalah patokan. Dan di mata mereka, mereka dirugikan.

Kebencian di sini bersumber pada persepsi nilai. Bagi yang tidak merasakan optimasi macOS, seamless integration dengan iPhone, atau build quality chassis aluminium unibody, Mac memang terlihat seperti barang overpriced untuk kaum hipster atau anak gedongan.

Faktanya? Apple memang memposisikan diri sebagai premium brand. Anda membayar ekosistem, desain, layanan purna jual (Apple Support terkenal bagus), dan resale value yang tinggi. Tapi, bagi orang yang butuh laptop untuk ngetik, browsing, dan main game casual, hal-hal ini dianggap “gimmick” yang tidak perlu. Mereka lebih memilih laptop gaming Windows dengan RGB yang bisa sekaligus buat edit video dan gaming berat. Kebencian tumbuh karena gap ekonomi dan prioritas kebutuhan yang berbeda.

Bab 3: Kompatibilitas dan “Game”-nya (atau tepatnya, Tidak Adanya Game)

Ini adalah momok terbesar, terutama di Indonesia yang masyarakatnya sangat doyan gaming. MacOS itu neraka bagi gamer. Titik.

Mengapa?

  • Architecture Berbeda: Dari dulu pakai PowerPC, lalu Intel, sekarang Apple Silicon (M1, M2, dll). Perubahan ini membuat developer game pusing tujuh keliling. Harus porting ulang, yang butuh biaya dan waktu.
  • Market Share Kecil: Kenapa repot-repot porting game ke 10% pengguna (angka global) kalau bisa fokus ke 80% pengguna Windows? Hitungan bisnisnya tidak masuk akal untuk kebanyakan studio game AAA.
  • Fokus Apple Bukan Gaming: Apple lebih fokus ke creative pro (video, musik, desain) dan produktivitas. Dukungan API game seperti Metal memang bagus, tapi tidak sepopuler DirectX dari Microsoft di dunia Windows.

Akibatnya? Pengguna Mac yang ingin main game terbaru harus pasang Bootcamp (jika pakai Intel) atau cloud gaming, yang membutuhkan koneksi internet kencang. Ribet! Bagi komunitas gamer, Mac adalah lelucon. Dan kebencian terhadap sesuatu yang dianggap “tidak bisa diajak kompromi” dalam hobi mereka adalah hal yang wajar.

Tidak hanya game, software tertentu juga hanya tersedia untuk Windows. Mulai dari software akuntansi lokal, aplikasi engineering tertentu (seperti banyak software CAD), sampai tools untuk flashing HP Android. Dunia enterprise juga masih didominasi Windows. Jadi, bagi pengguna di niche ini, Mac adalah batu sandungan.

Bab 4: Kebebasan yang Dikekang – App Store, Sideloading, dan Kehendak Bebas

Ingin install software? Cara utama adalah lewat Mac App Store. Tapi, tidak semua software ada di sana. Lalu, Anda bisa download .dmg dari website developer langsung. Nah, di sinilah masalahnya: Gatekeeper.

macOS punya fitur keamanan yang, oleh sebagian orang, dianggap kekanak-kanakan. Saat Anda ingin membuka app dari developer yang tidak teridentifikasi, macOS akan menampilkan peringatan menakutkan. Anda harus masuk ke System Preferences > Security & Privacy untuk mengizinkannya. Bagi pengguna awam, ini bagus. Bagi power user, ini mengganggu alur kerja.

Belum lagi isu sideloading yang ketat. Di iOS lebih parah, tapi filosofi yang sama merembes ke macOS. Apple ingin menjadi penjaga gerbang tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan regulasi memaksa Apple melonggarkan, tapi rasa “dikendalikan” itu sudah melekat.

Bandigkan dengan Windows: klik .exe, next-next-next, finish. Atau Linux: sudo apt install [package]. Terasa lebih powerful dan trusting kepada penggunanya. MacOS dianggap tidak menghargai kecerdasan pengguna dengan semua peringatan dan pembatasannya.

Bab 5> UI/UX yang “Terlalu Sederhana” atau “Kurang Kaya Fitur”

Ini masalah persepsi lagi. Bagi penggemar Mac, desain macOS itu bersih, minimalis, dan intuitif. Bagi yang benci, itu terlalu sederhana sampai-sampai terasa bodoh.

Beberapa poin kritik:

  • Dock vs Taskbar: Dock dianggap kurang informatif. Minim preview yang detail, pengelompokan window yang kadang membingungkan.
  • Manajemen Window: Tidak ada snap assist yang sepower Windows (sekarang sudah ada tapi masih kalah). Maximize window yang tidak selalu full screen.
  • Finder vs File Explorer: Finder sering dicap sebagai file manager paling “dungu”. Copy-paste yang tidak bisa pause, UI yang dianggap ketinggalan zaman, dan kurangnya fitur tab (hingga versi tertentu). Pengguna Windows yang berpindah sering frustasi.
  • Kurangnya Customization: Anda tidak bisa mengutak-atik tema secara mendalam seperti di Linux. Tidak ada registry editor untuk hack-hack tertentu. Semua serba “begitu saja”.

Bagi orang yang suka mengatur workflow mereka hingga detail paling kecil, macOS terasa menginfantilkan. Mereka merasa diperlakukan seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Padahal, mungkin mereka adalah programmer atau system admin yang level pengetahuannya jauh di atas rata-rata.

Bab 6: Reparasi dan Upgradabilitas – Jalan Buntu

Ini adalah titik kritik paling valid secara teknis. Apple terkenal dengan perangkatnya yang sulit diperbaiki dan tidak bisa di-upgrade.

Mulai dari MacBook dengan RAM yang disolder, SSD yang dipatri ke motherboard, sampai penggunaan sekrup proprietary yang membuat Anda tidak bisa buka casing tanpa alat khusus. Filosofinya adalah thin, light, and sealed.

Dampaknya?

  • Biaya Perbaikan Mahal: SSD rusak? Ganti seluruh logic board. Harga bisa setengah harga laptop baru.
  • Usia Pakai Terbatas: Beli dengan 8GB RAM, 5 tahun lagi kebutuhan software meningkat, Anda tidak bisa menambah RAM. Solusinya? Beli baru. Ini yang dituding sebagai planned obsolescence (penuaan terencana).
  • Lawan dari Semangat Right to Repair: Gerakan hak untuk memperbaiki perangkat sendiri sangat anti dengan praktik Apple. Kebencian dari komunitas ini sangat kuat dan berdasarkan prinsip.

Bandigkan dengan laptop Windows atau PC rakitan. RAM penuh? Tambah slot. Butuh penyimpanan lebih? Pasang SSD SATA tambahan. GPU lemah? Upgrade! Kebebasan ini tidak ada di dunia Mac (kecuali Mac Pro yang harganya selangit). Bagi tech enthusiast, ini adalah pengkhianatan terhadap kepemilikan penuh atas barang yang dibeli.

Bab 7> Komunitas dan Stereotip “Apple Fanboy”

Psikologi sosial berperan besar. Seringkali, kebencian pada produk berujung pada kebencian pada penggunanya. Stereotip “Apple Fanboy” digambarkan sebagai orang yang:

  • Membeli Apple hanya untuk gaya/gengsi.
  • Tidak mengerti teknologi tapi sok karena punya barang mahal.
  • Membela Apple membabi-buta tanpa kritik objektif (“Lagian kamu belum pernah pake Mac sih!”).
  • Dianggap “korban marketing” Apple yang genius.

Nah, orang-orang yang benci macOS seringkali sebenarnya benci pada stereotip penggunanya. Mereka tidak ingin dikelompokkan sebagai “fanboy” itu. Mereka ingin dilihat sebagai orang yang rasional, paham spesifikasi, dan membuat keputusan berdasarkan nilai teknis, bukan branding.

Padahal, tentu saja tidak semua pengguna Mac seperti itu. Banyak profesional kreatif yang menggunakan Mac karena memang tool terbaik untuk pekerjaan mereka, tanpa peduli gengsi. Tapi, stigma ini sulit dihilangkan dan menjadi racun di komunitas teknologi.

Bab 8: Transisi Intel ke Apple Silicon – Kekhawatiran dan Keterasingan

Ketika Apple mengumumkan hengkang dari prosesor Intel ke chip M1 milik sendiri, dunia gempar. Performanya terbukti dahsyat dengan efisiensi energi yang luar biasa. Tapi, di balik itu, ada gelombang kebencian/kekhawatiran baru.

1. Kematian Bootcamp: Dengan Apple Silicon, Anda tidak bisa lagi install Windows secara native lewat Bootcamp. Satu-satunya jalan adalah virtualisasi (Parallels, VMWare) yang menjalankan Windows on ARM. Bagi yang bergantung pada Bootcamp untuk kerja atau gaming, ini adalah pukulan berat. Mereka merasa ditinggalkan.

2. Kompatibilitas Software Lama: Software Intel-only harus dijalankan lewat Rosetta 2 (layer penerjemah). Meski umumnya bekerja baik, ada yang error atau performanya turun. Bagi yang punya workflow dengan software niche tua, ini masalah besar.

3. “Lock-in” yang Lebih Dalam: Dengan arsitektur sendiri, Apple semakin mengunci pengguna di taman berdindingnya. Tidak ada peluang untuk install macOS di hardware non-Apple (Hackintosh) untuk chip M series. Pilihan semakin sedikit. Bagi yang suka kebebasan, ini adalah mimpi buruk.

Bab 9: Perbedaan “Bahasa” dengan Windows – Muslihat Otot Memori

Bagi yang seumur hidup pakai Windows, pindah ke Mac itu seperti pindah negara. Semua shortcut keyboard berbeda. Simbol Command (⌘) vs Ctrl. Meminimalkan window? Maximize? Pindah aplikasi? Semuanya berbeda.

Otak kita membentuk muscle memory yang kuat. Ketika dipaksa belajar “bahasa” baru, muncul frustasi. Dan manusia cenderung menyalahkan “bahasa” barunya sebagai “bahasa yang salah/bodoh”, alih-alih mengakui bahwa dirinya yang harus beradaptasi. “Ini rancangannya aneh! Di Windows lebih masuk akal!” adalah kalimat yang sering terlontar. Kebencian muncul dari rasa tidak nyaman dan investasi waktu untuk belajar ulang yang dianggap tidak perlu.

Bab 10: Apakah Semua “Kebencian” Ini Valid? Sebuah Refleksi

Setelah membeberkan semua poin, mari kita evaluasi. Apakah macOS memang sistem operasi yang buruk? Tidak sama sekali. Bahkan, dalam banyak hal (stabilitas, keamanan, optimasi hardware-software, integrasi ekosistem, dukungan untuk creative work), macOS unggul.

Kebencian terhadap macOS pada intinya adalah konflik antara dua filosofi yang bertolak belakang:

1. Filosofi “It Just Works” (Apple) vs Filosofi “It Can Do Anything” (Windows/Linux).
2. Filosofi “Kurasi dan Kontrol” vs Filosofi “Kebebasan dan Keterbukaan”.
3. Filosofi “Pengalaman Pengguna yang Terpandu” vs Filosofi “Kekuatan dan Tanggung Jawab di Tangan Pengguna”.

Kebanyakan “kebencian” berasal dari orang yang hidup di filosofi kedua dipaksa atau melihat dominasi filosofi pertama. Mereka merasa hak mereka sebagai “tuan atas perangkat sendiri” dicabut. Ditambah dengan faktor harga, kompatibilitas game, dan stereotip sosial, jadilah antipati yang mendalam.

Kesimpulan

Jadi, kenapa banyak orang benci menggunakan macOS? Jawabannya bukan karena macOS buruk, tapi karena tidak cocok dengan kebutuhan, anggaran, nilai (value), dan cara berpikir mereka.

Bagi seorang video editor atau musisi, macOS bisa jadi surga. Bagi seorang gamer hardcore atau engineer yang pakai software Windows-specific, macOS adalah neraka. Bagi seorang hacker atau hobbyist yang suka utak-atik, macOS adalah penjara. Bagi yang budget terbatas, macOS adalah barang mewah yang tidak perlu.

“Kebencian” ini adalah bagian sehat dari dunia teknologi yang beragam. Ini memaksa Apple untuk terus berinovasi dan kadang mendengarkan kritik (seperti perbaikan Finder, penambahan beberapa fitur). Pun, memaksa Microsoft dan Linux untuk tidak berleha-leha.

Jadi, lain kali Anda mendengar seseorang mencaci macOS, coba tanyakan lebih dalam. Mungkin Anda akan menemukan dia adalah seorang gamer, atau seorang tinkerer, atau seorang yang punya trauma dengan harga mahal. Dan sebaliknya, jika ada yang memuji macOS, mungkin dia adalah seorang kreator yang merasakan manfaat seamless ecosystem.

Pada akhirnya, pilihan teknologi adalah cerminan dari prioritas dan kepribadian kita. Dan dunia akan membosankan jika kita semua menyukai hal yang sama, bukan?

Apa pendapat Anda? Share pengalaman Anda baik yang suka atau tidak suka dengan macOS di komentar!

Setiap komentar kami moderasi...
Silahkan berkomentar dengan bijak... Dilarang SPAM dan menyantumkan link aktif...
EmoticonEmoticon